Ironi Gen Z: Habiskan Waktu Lebih Lama di Sekolah, Namun Skor IQ Kalah dari Milenial

AMERIKA SERIKAT, Nusaselebes News – Selama puluhan tahun, dunia meyakini sebuah premis bahwa setiap generasi baru pasti lebih cerdas dari pendahulunya. Namun, tren positif yang dikenal sebagai Flynn Effect ini tampaknya resmi terhenti pada Generasi Z (Gen Z).
Para ahli saraf di Amerika Serikat memberikan peringatan keras: Gen Z berisiko menjadi generasi pertama dalam sejarah modern yang memiliki tingkat kecerdasan kognitif lebih rendah dibandingkan Generasi Milenial. Fenomena ini memicu perdebatan besar mengenai efektivitas teknologi dalam sistem pendidikan saat ini.
Ancaman EdTech: Teknologi yang Justru Menumpulkan Otak
Ahli saraf terkemuka, Jared Cooney Horvath, mengungkapkan fakta mengejutkan di hadapan Komite Senat AS. Ia menuding penggunaan teknologi pendidikan atau Education Technology (EdTech) yang berlebihan sebagai dalih utama di balik kemerosotan ini.
Menurut Horvath, data menunjukkan penurunan tajam pada hampir seluruh aspek kognitif inti Gen Z, meliputi:
- Rentang Perhatian (Attention Span): Ketidakmampuan fokus dalam durasi lama.
- Daya Ingat: Ketergantungan pada mesin pencari membuat otak malas menyimpan informasi.
- Literasi dan Numerasi: Penurunan kemampuan memahami teks panjang dan logika angka.
- Pemecahan Masalah: Kurangnya kemampuan berpikir kritis akibat terbiasa dengan hasil instan.
“Begitu negara-negara mengadopsi teknologi digital secara luas di sekolah, kinerja kognitif siswa menurun secara signifikan,” ujar Horvath sebagaimana dikutip dari Wion.
Paradoks Sekolah: Waktu Belajar Meningkat, Kualitas Menurun
Secara statistik, Gen Z menghabiskan waktu di lembaga formal lebih lama dibandingkan generasi terdahulu. Namun, waktu ekstra tersebut tidak berbanding lurus dengan perkembangan otak. Mengapa?
Horvath menjelaskan bahwa otak manusia secara biologis tidak dirancang untuk menyerap informasi melalui potongan video pendek atau ringkasan teks digital yang instan.
- Paparan Layar: Remaja saat ini menghabiskan setengah dari waktu terjaga mereka untuk menatap layar.
- Kecerdasan Buatan (AI): Ketergantungan pada AI dalam mengerjakan tugas dianggap merusak proses berpikir mendalam.
- Interaksi Sosial: Otak manusia tumbuh melalui interaksi sosial nyata dan membaca buku fisik, bukan sekadar membolak-balik layar gawai.
Masalah Global di 80 Negara
Fenomena ini bukan hanya masalah di Amerika Serikat. Tren serupa ditemukan di setidaknya 80 negara yang mengintegrasikan teknologi digital secara masif di ruang kelas.
Horvath menekankan bahwa mencari metode edukasi digital yang “lebih baik” bukanlah solusi. Akar persoalannya adalah teknologi itu sendiri yang seringkali tidak sejalan dengan cara alami otak manusia menyimpan memori jangka panjang.
“Evolusi manusia menuntut proses belajar melalui interaksi sosial nyata dengan guru dan teman sebaya,” tegasnya. Tanpa adanya studi mendalam dan interaksi tatap muka, penguasaan ide-ide kompleks akan sulit dicapai oleh generasi mendatang.
